Pada musim semi 1429, kota Orléans di Prancis tengah telah dikepung Inggris selama tujuh bulan dan berada di ambang kejatuhan. Siapa yang menyelamatkannya bukanlah jenderal berpengalaman, melainkan Joan of Arc, gadis petani berusia 17 tahun dari Domrémy yang mengaku mendengar suara para santo memerintahkannya membebaskan Prancis. Bagaimana seorang remaja buta huruf bisa membalikkan perang? Pengepungan Orléans menjadi jawabannya: dalam sembilan hari, ia mengangkat moral bangsa yang runtuh, memaksa Inggris mundur, dan mengubah arah Perang Seratus Tahun untuk selamanya.
Prancis di Ambang Kehancuran
Pada 1429, situasi Prancis sangat suram. Setelah kekalahan telak di Agincourt pada 1415, Inggris menguasai Paris dan sebagian besar Prancis utara melalui aliansi dengan Burgundi. Raja Charles VI telah meninggal, dan putranya, Charles VII, belum dinobatkan karena Reims, kota penobatan tradisional, berada di tangan musuh.
Orléans adalah kunci strategis karena mengendalikan penyeberangan Sungai Loire, garis pertahanan terakhir sebelum wilayah selatan yang masih dikuasai Charles. Jika kota itu jatuh, Inggris bisa bergerak ke selatan dan mengakhiri perlawanan Prancis. Garnisun kota bertahan dengan gagah berani, tetapi pasokan menipis dan harapan memudar.
Di tengah keputusasaan inilah Joan muncul dan meminta dibawa menghadap Charles di Chinon. Setelah diperiksa para teolog yang memastikan ia bukan penyihir, Charles memberinya baju zirah, panji perang, dan pasukan kecil. Kisah lengkap pengepungan ini dapat dibaca di artikel Wikipedia tentang Pengepungan Orléans.
Sembilan Hari yang Mengubah Perang
Joan tiba di Orléans pada 29 April 1429, dan dampak psikologis kedatangannya langsung terasa. Moral para pembela yang terkepung tujuh bulan bangkit seketika, karena gadis pembawa panji bertuliskan nama Yesus dan Maria ini menjadi simbol bahwa Tuhan berpihak pada Prancis. Namun Joan bukan sekadar maskot: ia mendesak para komandan yang ragu untuk menyerang benteng-benteng Inggris di sekitar kota.
Rangkaian peristiwa dalam sembilan hari itu berjalan sangat cepat:
- 29 April 1429 — Joan memasuki Orléans dan membangkitkan semangat garnisun serta warga kota.
- 4 Mei — Pasukan Prancis merebut benteng Saint-Loup dari tangan Inggris.
- 6–7 Mei — Prancis menyerbu Les Augustins dan Les Tourelles, benteng Inggris terkuat; Joan terluka oleh panah di leher, tetapi kembali bertempur setelah lukanya dibalut.
- 8 Mei — Inggris membongkar pengepungan dan mundur; pengepungan tujuh bulan berakhir hanya dalam sembilan hari.
Luka panah yang dialami Joan dan perawatan cepat yang membuatnya bisa kembali ke medan laga memberi gambaran sederhana tentang perkembangan obat-obatan militer dan penanganan luka perang pada zamannya. Berita kemenangan ini menyebar ke seluruh Prancis seperti api. Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, rakyat Prancis percaya mereka bisa menang.
Dari Orléans ke Reims
Joan tidak berhenti di Orléans; ia mendesak Charles bergerak ke Reims agar dapat dinobatkan secara sah. Kampanye Loire yang menyusul menghasilkan kemenangan beruntun Prancis di Jargeau, Meung-sur-Loire, Beaugency, dan Patay, tempat pemanah Inggris yang legendaris dihancurkan. Pada 17 Juli 1429, Charles VII dinobatkan di Katedral Reims dengan Joan berdiri di sampingnya memegang panji.
Penobatan itu berdampak politik sangat besar. Charles kini adalah raja yang sah menurut hukum dan agama, sementara klaim Inggris atas takhta Prancis melemah. Perang yang tadinya tampak akan dimenangkan Inggris berubah menjadi perjuangan nasional Prancis yang sah.
Namun kejayaan Joan tidak bertahan lama. Pada 1430, ia tertangkap Burgundi dalam pertempuran di Compiègne dan dijual ke Inggris. Setelah pengadilan yang dipenuhi kecurangan politik, ia dibakar hidup-hidup di Rouen pada 30 Mei 1431 dalam usia 19 tahun, sementara Charles yang ia nobatkan tidak berbuat apa-apa untuk menyelamatkannya.
Warisan Sang Perawan Orléans
Kematian Joan tidak menghentikan momentum yang ia ciptakan. Prancis terus memenangkan perang hingga akhirnya mengusir Inggris dari seluruh wilayahnya kecuali Calais pada 1453. Dua puluh lima tahun setelah eksekusinya, pengadilan ulang menyatakan Joan tidak bersalah, dan pada 1920 ia dikanonisasi sebagai santa oleh Gereja Katolik.
Dari sudut pandang militer, kontribusi Joan masih diperdebatkan para sejarawan. Kelompok minimalis menilai ia hanya maskot, sementara kemenangan Prancis lebih disebabkan reformasi artileri di bawah Jean Bureau dan kepemimpinan komandan seperti Dunois. Kelompok maksimalis menekankan kesaksian para saksi mata tentang pengaruh langsungnya: menyerang dengan cepat, tidak memberi musuh waktu beristirahat, dan memimpin dari depan.
Pengepungan Orléans juga menandai era baru perang pengepungan, ketika kedua pihak memakai artileri bubuk mesiu secara ekstensif. Artileri Prancis kemudian menghancurkan Inggris di Formigny dan Castillon, sehingga kemenangan akhir Prancis sebagian merupakan kemenangan teknologi. Perdebatan mengenai titik balik semacam ini juga muncul dalam kajian strategi militer Perang Pasifik di Yogyakarta, yang menunjukkan bagaimana momentum dan moral sama menentukan dengan kekuatan senjata.
Benteng-benteng Inggris di sekitar Orléans termasuk yang pertama dirancang untuk menghadapi meriam, sehingga pengepungan ini menjadi tonggak peralihan dari perang abad pertengahan menuju perang modern. Di luar medan perang, kisah Joan diceritakan kembali dalam ratusan buku, film, dan karya seni, dari Shakespeare hingga Mark Twain yang menganggap biografinya tentang Joan sebagai karya terbaiknya. Ia menjadi pahlawan nasional Prancis, santa Katolik, ikon feminis, dan simbol perlawanan terhadap penjajahan sekaligus.
Pada akhirnya, pelajaran terbesar Orléans adalah kekuatan simbol dan moral dalam perang. Pasukan yang membebaskan kota itu tidak jauh berbeda dari pasukan yang gagal sebelumnya; yang berubah adalah keyakinan mereka. Joan of Arc membuktikan bahwa kepemimpinan bukan soal pangkat atau pengalaman, melainkan kemampuan menginspirasi—dan gadis 17 tahun tanpa pendidikan militer itu telah mengubah jalannya perang terpanjang dalam sejarah Eropa.
Ini baru satu bab dari Sejarah Militer. Masih banyak kisah lain di kategori yang sama yang menunggu untuk dibaca.
Kalau bermanfaat, teruskan tautan ini ke siapa pun yang suka sejarah.



