Dari akhir Desember 1944 hingga Februari 1945, Budapest — ibu kota Hungaria yang dijuluki “Paris dari Timur” — berubah menjadi medan tempur jalanan selama 102 hari. Tentara Merah Soviet mengepung garnisun Jerman-Hungaria yang terjebak di dalam kota, sementara sekitar 800.000 warga sipil ikut terkunci di dalamnya tanpa makanan dan tanpa pemanas, pada musim dingin terdingin dalam sejarah modern Hungaria. Ketika kota itu akhirnya jatuh, lebih dari 100.000 orang telah tewas, termasuk sekitar 38.000 warga sipil.
Mengapa Budapest harus dipertahankan sampai titik itu? Jawabannya adalah obsesi Hitler. Ia terobsesi pada minyak Hungaria di Nagykanizsa dan menyatakan Budapest sebagai “Festung” — benteng yang wajib dipertahankan sampai titik darah terakhir. Perintah semacam itu tidak menanyakan apakah kota itu dapat diselamatkan; ia hanya menentukan berapa banyak orang yang akan mati sebelum kota itu jatuh.
Angka-angka pengepungan ini merangkum tragedinya:
- Sekitar 70.000 tentara Jerman dan Hungaria bertahan di dalam kota, melawan kurang lebih 500.000 tentara Soviet dan Rumania di luar.
- Sekitar 800.000 warga sipil terjebak di dalam kepungan, tanpa makanan dan tanpa pemanas.
- Sekitar 38.000 warga sipil tewas — kebanyakan karena kelaparan, kedinginan, dan pemboman.
- 11 Februari 1945: dari sekitar 28.000 prajurit yang mencoba menerobos keluar, hanya sekitar 700 yang mencapai garis Jerman.
- 13 Februari 1945: kota jatuh, dengan sekitar 80 persen bangunannya hancur.
Kepungan Menutup: 26 Desember 1944
Di dalam kota, sekitar 70.000 tentara Jerman dan Hungaria di bawah Karl Pfeffer-Wildenbruch bersiap menghadapi kepungan. Di luar, kurang lebih 500.000 tentara Soviet dan Rumania di bawah Rodion Malinovsky menutup lingkaran. Pada 26 Desember 1944 kepungan tertutup sepenuhnya — tidak ada lagi jalan masuk maupun keluar.
Posisi Hungaria sendiri serba terjepit. Negara itu adalah sekutu aktif Jerman, tetapi pemimpinnya, Miklós Horthy, sempat berusaha keluar dari perang — upaya yang digagalkan Jerman. Kini Hungaria harus membayar harga dari aliansi itu: ibu kotanya dijadikan benteng oleh sekutu yang tidak lagi bisa melindunginya, dan akan direbut oleh musuh yang datang bukan sebagai pembebas yang ramah.
102 Hari Neraka di Dua Tepi Danube
Pertempuran berlangsung jalan demi jalan, rumah demi rumah. Pest, sisi timur Danube yang datar, jatuh pada Januari 1945. Tetapi Buda di sisi barat yang berbukit bertahan lebih lama, memberi garnisun pijakan terakhir. Pasokan udara Jerman gagal memenuhi kebutuhan, dan upaya pembebasan dari luar — Operasi Konrad — gagal berulang kali dengan korban besar, hanya menambah penderitaan tanpa mengubah hasil.
Bagi warga sipil, pengepungan berarti kelaparan yang perlahan. Kuda dan anjing dimakan, lalu tidak ada lagi yang tersisa. Dari sekitar 38.000 warga sipil yang tewas, kebanyakan meninggal bukan karena peluru, melainkan karena kelaparan, kedinginan, dan pemboman. Di tengah pengepungan itu, kengerian lain terjadi: milisi Nazi Hungaria, Arrow Cross, membantai ribuan orang Yahudi di tepi Danube — sepatu-sepatu korban ditinggalkan di tanggul sungai, dan kini menjadi monumen peringatan yang terkenal.
Akhirnya, pada 11 Februari 1945, garnisun yang tersisa mencoba menerobos keluar: sekitar 28.000 orang menyerbu ke arah barat. Hanya sekitar 700 orang yang berhasil mencapai garis Jerman; sisanya tewas atau ditawan. Dua hari kemudian, 13 Februari 1945, Budapest jatuh.
Kota yang disebut Paris dari Timur itu hancur hingga 80 persen. Kronologi pengepungan ini juga dirangkum dalam artikel Pengepungan Budapest di Wikipedia.
Pembebasan yang Menjadi Pendudukan
Jatuhnya Budapest tidak mengakhiri penderitaan warganya. Tentara Soviet yang merebut kota melakukan penjarahan dan kekerasan massal — pola kejahatan perang yang berulang di seluruh Front Timur. Pembebasan dari Nazi berubah menjadi pendudukan oleh penindas baru, dan Hungaria tetap berada di bawah dominasi Soviet selama 45 tahun berikutnya.
Sejarah Hungaria dalam perang ini memang tidak hitam-putih. Bangsa itu bukan sekadar korban: ia adalah sekutu aktif Jerman yang ikut serta dalam invasi ke Soviet dan dalam Holocaust. Sejarah yang jujur mengakui bahwa korban dan pelaku bisa jadi adalah bangsa yang sama pada waktu yang berbeda — dan perdebatan tentang tanggung jawab Jerman, Soviet, dan pemerintah Hungaria sendiri masih berlangsung hingga kini.
Pengalaman Budapest menjadi pelajaran abadi tentang perang kota: pertempuran rumah ke rumah menghancurkan infrastruktur sipil dan menelan puluhan ribu non-kombatan, sebagaimana pertempuran amfibi dan kota lain yang sama brutalnya dalam Pertempuran Tarawa 1943: Pendaratan Berdarah Marinir AS di Pasifik dan duel lapis baja modern dalam Pertempuran 73 Easting 1991: Duel Tank Tercepat dalam Perang Teluk menunjukkan dari sisi yang berbeda.
Ketika senjata akhirnya berhenti pada 13 Februari 1945, Budapest adalah kota mati: sekitar 80 persen bangunannya rusak, semua jembatan di atas Danube hancur, dan penjarahan serta kekerasan massal yang menyertai pendudukan menjadi luka yang dibungkam selama era komunis. Pembangunan kembali memakan waktu puluhan tahun — Jembatan Chain Széchenyi yang ikonik baru pulih sepenuhnya pada 1949.
Namun Budapest hari ini adalah bukti bahwa kota, seperti manusia, dapat sembuh.
Ia bangkit dari kehancuran total menjadi salah satu kota terindah di Eropa dan tujuan wisata dunia, meski bekas lukanya tetap terlihat bagi yang tahu ke mana harus memandang. Pengepungan Budapest pada akhirnya mengajarkan satu hal sederhana yang terus diabaikan para pemimpin yang putus asa: tidak ada kota yang sepadan dengan perintah “bertahan hingga orang terakhir” — karena yang membayar perintah itu selalu mereka yang tidak pernah mengucapkannya.
Sebelum beranjak, sempatkan membaca Pertempuran Hutan Hurtgen 1944: Perang Melelahkan di Perbatasan Jerman. Sudut pandangnya melengkapi apa yang baru saja kamu baca.
Kalau bermanfaat, teruskan tautan ini ke siapa pun yang suka sejarah.



