Pada tahun 70 M, pasukan Romawi di bawah Titus — putra Kaisar Vespasianus yang baru berusia 30 tahun — mengepung Yerusalem selama lima bulan. Ketika pertahanan kota akhirnya runtuh, Bait Suci Kedua, pusat spiritual bangsa Yahudi, dilalap api dan dihancurkan. Pengepungan Yerusalem bukan sekadar operasi militer; ia adalah tragedi kemanusiaan raksasa dan titik balik yang mengubah sejarah Yahudi, Kristen, dan Romawi selamanya.
Mengapa perang ini meletus? Setelah puluhan tahun ketegangan akibat pajak yang memberatkan, korupsi pejabat Romawi, dan konflik agama, bangsa Yahudi di Yudea bangkit memberontak pada 66 M. Pemberontakan itu awalnya berhasil dan Yerusalem jatuh ke tangan pemberontak — tetapi keberhasilan itu justru memancing respons yang tidak mungkin ditahan.
Roma tidak pernah membiarkan pemberontakan berhasil, dan Kaisar Nero mengirim Vespasianus, salah satu jenderalnya yang paling berpengalaman, dengan tiga legiun untuk menghancurkannya. Vespasianus bergerak sistematis dari utara, merebut kota demi kota di Galilea. Ketika Nero bunuh diri dan perang saudara meletus di Roma, Vespasianus dinyatakan kaisar oleh pasukannya dan menyerahkan komando pengepungan Yerusalem kepada Titus.
Kota yang Menghancurkan Dirinya Sendiri
Ironisnya, musuh terburuk Yerusalem berada di dalam temboknya sendiri. Tiga faksi Yahudi yang bersaing — kaum Zelot, kaum Sikari, dan pengikut Yohanes dari Gischala — malah saling berperang di dalam kota yang terkepung. Mereka membakar persediaan makanan satu sama lain dalam konflik internal yang gila, padahal makanan itulah satu-satunya yang bisa membuat kota bertahan melawan Roma.
Titus, sebaliknya, bekerja dengan metode yang dingin dan sistematis:
- Ia mengepung kota dengan sekitar 60.000 prajurit mulai musim semi 70 M.
- Ia membangun tembok pengepung sepanjang 7 kilometer dengan 13 benteng mengelilingi kota, memastikan tidak ada makanan yang masuk.
- Tiga lapis tembok Yerusalem harus direbut satu per satu, dengan tanggul-tanggul pengepung raksasa dibangun untuk mencapainya.
- Para pembela melawan dengan menjatuhkan batu, menuangkan minyak mendidih, dan menyerang pada malam hari untuk membakar mesin-mesin pengepung.
Strategi Titus sederhana dan kejam: buat seluruh kota kelaparan hingga menyerah. Dan kelaparan itu, dibantu oleh persediaan yang telah dibakar para faksi sendiri, bekerja dengan mengerikan.
Kelaparan dan Jatuhnya Bait Suci
Sejarawan Yahudi-Romawi Yosefus, yang menyaksikan pengepungan ini dari pihak Romawi, mencatat kengerian di dalam kota: orang memakan kulit dan jerami, dan menurut kisahnya yang paling mengerikan, seorang ibu sampai memakan anaknya sendiri. Yosefus memperkirakan lebih dari sejuta orang tewas selama pengepungan — angka yang oleh sejarawan modern dianggap mungkin dibesar-besarkan, tetapi tetap menggambarkan skala bencana itu.
Pada Agustus 70 M, pasukan Romawi menerobos ke Bukit Bait Suci. Menurut Yosefus, Titus sebenarnya ingin menyelamatkan Bait Suci sebagai monumen kemenangan, tetapi dalam kekacauan pertempuran seorang prajurit melemparkan obor ke dalam bangunan dan api melalap seluruh kompleks. Para sejarawan modern masih memperdebatkan apakah Titus memang ingin menyelamatkannya atau justru memerintahkan penghancurannya.
Yang pasti, Bait Suci yang dibangun Herodes selama puluhan tahun hancur dalam hitungan jam. Emas dan hartanya diangkut ke Roma, dan relief di Gapura Titus yang masih berdiri hingga kini menggambarkan pawai kemenangan yang membawa Menorah suci. Rincian peristiwa ini dapat dibaca dalam artikel Pengepungan Yerusalem (70 M) di Wikipedia.
Agama yang Berubah Selamanya
Kehancuran Bait Suci Kedua mengubah Yudaisme secara mendasar. Tanpa bait dan sistem kurbannya, para rabi mengembangkan Yudaisme Rabinik yang berpusat pada Taurat dan sinagoge — transformasi yang memungkinkan agama Yahudi bertahan selama 2.000 tahun pembuangan berikutnya. Bangsa Yahudi memperingati kehancuran ini setiap tahun pada hari Tisha B’Av sebagai hari berkabung nasional.
Bagi komunitas Kristen awal yang masih berpusat di Yerusalem, kehancuran kota itu adalah pukulan sekaligus pembebasan: gereja Yerusalem yang dipimpin Yakobus hancur, pusat kekristenan bergeser ke kota-kota seperti Antiokhia dan Roma, dan perpecahan antara Yudaisme dan Kristen semakin dalam. Para penulis Injil yang menulis setelah 70 M menafsirkan kehancuran Bait Suci sebagai penggenapan nubuat Yesus bahwa tidak akan ada satu batu pun tertinggal di atas batu lainnya.
Yerusalem sendiri terus menjadi rebutan selama ribuan tahun sesudahnya — dari Perang Salib hingga konflik modern, dan kota-kota benteng di kawasan yang sama terus menjadi saksi pertempuran besar seperti yang diuraikan dalam Benteng Terakhir di Timur Tengah: Kisah Perang Mamluk Melawan Invasi Mongol. Namun pengepungan 70 M tetap yang paling menentukan karena mengakhiri Yerusalem sebagai pusat negara Yahudi merdeka selama hampir dua milenium. Berbeda dengan penaklukan damai kota itu di bawah Khalifah Umar berabad-abad kemudian, penaklukan Titus adalah penaklukan dengan api dan pedang — dua wajah perang dengan konsekuensi yang sangat berbeda bagi kota suci ini. Strategi pengepungan sistematis semacam ini, mengandalkan medan dan blokade total, memiliki padanan dalam berbagai perang perebutan benteng dan wilayah seperti dibahas dalam Perang Gurun: Strategi Bertempur di Padang Pasir Afrika dan Timur Tengah.
Hampir semua yang kita ketahui tentang pengepungan ini berasal dari Yosefus — komandan Yahudi yang menyerah kepada Roma dan menjadi sejarawan istana Flavianus. Posisinya membuat karyanya sangat berharga sekaligus harus dibaca kritis: detail teknis dan kronologinya umumnya akurat karena ia saksi mata, tetapi angka korban dan kisah-kisah ekstremnya juga berfungsi sebagai propaganda. Terlepas dari bias itu, pelajaran Yerusalem tetap jernih hingga kini: perpecahan internal bisa lebih mematikan daripada musuh di luar tembok. Para pemberontak memiliki tembok kuat, pasukan berani, dan keyakinan membara — tetapi mereka menghancurkan diri sendiri dari dalam, dan Titus hanya perlu menunggu sambil membangun tembok kelaparan.
Sebelum beranjak, sempatkan membaca Pertempuran Farsalos 48 SM: Caesar vs Pompey dalam Perang Saudara Romawi. Sudut pandangnya melengkapi apa yang baru saja kamu baca.
Jangan simpan sendiri: bagikan kisah ini dan ajak yang lain ikut membaca.



