Oktober 1935, Benito Mussolini melancarkan invasi ke Etiopia — salah satu dari dua negara Afrika yang belum dijajah, bersama Liberia. Dengan 500.000 prajurit, tank, pesawat, dan senjata kimia, Italia membantai pasukan Etiopia yang sebagian masih berpedang dan bertombak.
Liga Bangsa-Bangsa — cikal bakal PBB — mengecam, lalu tidak bertindak. Etiopia jatuh pada 1936. Dan kegagalan Liga di padang Etiopia itulah yang membuka jalan menuju Perang Dunia II.
Ambisi Mussolini: Imperium Romawi Baru
Mussolini terobsesi membangun “Imperium Romawi Baru”: Italia harus memiliki koloni seperti Inggris dan Prancis. Libya sudah dikuasai, Somalia juga — Etiopia adalah kepingan yang hilang dari imperium Afrika yang ia impikan.
Ada pula dendam lama. Pada 1896, Etiopia mempermalukan Italia di Adwa — kekalahan kolonial Eropa satu-satunya oleh kekuatan Afrika. Kemenangan kolonial juga Mussolini butuhkan untuk membuktikan Italia adalah kekuatan besar, dan untuk mengalihkan perhatian dari masalah-masalah domestik.
Propaganda membungkus invasi ini sebagai “misi peradaban”; kenyataannya adalah agresi brutal demi prestise. Alasan resminya direkayasa: insiden Walwal (1934), bentrokan perbatasan yang diatur sedemikian rupa untuk menjadi dalih invasi.
Kekuatan yang dikerahkan luar biasa timpang:
- Italia: 500.000 prajurit dengan 500 tank dan 500 pesawat serta senjata modern.
- Etiopia: 800.000 prajurit, tetapi sebagian besar hanya bersenjatakan tombak dan pedang, dengan sedikit senapan tua.
- Kaisar Haile Selassie memohon bantuan Liga Bangsa-Bangsa — dan ditinggalkan sendirian.
Ketidakseimbangan itu mencerminkan arogansi kolonial yang menganggap kemenangan sudah pasti. Biografi sang kaisar tersedia pada artikel Haile Selassie di Wikipedia.
Perang Kimia dan Pembantaian
Italia tidak hanya menang dengan teknologi. Pesawat-pesawat Italia menyemprotkan gas mustard — senjata kimia yang dilarang — ke pasukan dan desa-desa Etiopia, menyebabkan luka bakar mengerikan dan kematian yang menyakitkan pada orang-orang yang tidak memiliki perlindungan apa pun. Palang Merah dibom.
Tawanan dieksekusi. Ini kejahatan perang yang terdokumentasi — tetapi dunia diam.
Kebrutalannya terancang untuk mematahkan perlawanan melalui teror. Setelah upaya pembunuhan terhadap gubernur Italia, pasukan Italia membalas dengan membantai ribuan warga sipil di Addis Ababa. Biksu, intelektual, dan siapa pun yang dicurigai sebagai nasionalis dieksekusi.
Namun perlawanan tidak pernah padam. Patriot Etiopia bertarung sebagai gerilya dari pegunungan selama lima tahun pendudukan, dipimpin oleh semangat yang sama yang pernah mengalahkan Italia pada 1896. Teknologi, ternyata, tidak dapat mengalahkan tekad.
Pidato Haile Selassie: Epitaf Liga Bangsa-Bangsa
Pada Juni 1936, Kaisar Haile Selassie berdiri di depan Liga Bangsa-Bangsa di Jenewa — penguasa Afrika pertama yang berbicara di forum dunia. Dengan suara bergetar ia berkata: “Saya, Haile Selassie I, Kaisar Etiopia, berada di sini untuk menuntut keadilan bagi rakyat saya.” Dan ia memperingatkan para diplomat: “Hari ini giliran kami, besok giliran kalian.”
Respons Liga adalah kegagalan total. Sanksi ekonomi yang dijatuhkan lemah — dan tidak mencakup minyak, bahan yang paling dibutuhkan Italia untuk berperang. Inggris dan Prancis, yang takut mendorong Mussolini ke pelukan Hitler, diam-diam melemahkan sanksi lewat Kesepakatan Hoare-Laval yang mengusulkan penyerahan sebagian Etiopia; ketika pengkhianatan itu tersingkap, menteri luar negeri yang terlibat terpaksa mengundurkan diri.
Para diplomat memberi Selassie tepuk tangan sopan, lalu pulang. Italia tetap memakai gas mustard; Liga tak berbuat apa-apa. Etiopia jatuh pada Mei 1936, dan Mussolini memproklamasikan “Imperium”-nya.
Pidato Selassie menjadi epitaf Liga Bangsa-Bangsa: lembaga yang diciptakan untuk mencegah perang terbukti ompong. Jika organisasi itu tidak bisa menghentikan agresi yang begitu jelas terhadap anggotanya sendiri, untuk apa ia ada?
Jalan Menuju Perang Dunia II
Hitler menyaksikan semuanya dengan saksama — dan menyimpulkan bahwa dunia tidak akan bertindak melawan agresi. Ia meremiliterisasi Rhineland pada 1936 dan menganeksasi Austria pada 1938. Sementara itu, sanksi Liga — meski lemah — mendorong Mussolini menjauh dari Inggris dan Prancis dan mendekat ke Hitler: pada 1936, Poros Roma-Berlin terbentuk. Dua diktator yang sebelumnya bersaing menjadi sekutu, dan perang dunia semakin tak terhindarkan.
Etiopia juga menjadi laboratorium untuk kehancuran yang akan datang: Italia menguji senjata kimia, taktik pemboman, dan propaganda yang kemudian digunakan dalam skala jauh lebih besar. Teror dari udara yang dipraktikkan di Afrika itu adalah nenek moyang perang udara modern — yang evolusinya hingga era pesawat nirawak dibahas dalam Perang Drone dan Kecerdasan Buatan: Masa Depan Konflik serta Perang Drone: Simbol Konflik Abad ke-21. Kekuatan-kekuatan besar mengamati Etiopia dan belajar: tentang efektivitas teror udara, tentang kelemahan sanksi, tentang pentingnya kecepatan.
Warisan: Simbol Perlawanan Afrika
Bagi Afrika, perlawanan Etiopia menjadi simbol perlawanan terhadap kolonialisme. Haile Selassie menjadi ikon — bahkan dianggap sebagai Tuhan oleh gerakan Rastafari di Jamaika. Etiopia, yang tidak pernah sepenuhnya ditaklukkan, menjadi sumber kebanggaan pan-Afrika dan kelak tuan rumah Uni Afrika.
Pada 1941, pasukan Sekutu bersama patriot Etiopia membebaskan negara itu — kekalahan pertama bagi kekuatan Poros dalam Perang Dunia II. Haile Selassie kembali ke takhtanya. Imperium yang kejam itu ternyata tidak dapat mematahkan semangat bangsa yang bertekad merdeka.
Perang Etiopia adalah peringatan yang diabaikan dunia: ketika agresi dibiarkan, agresor tidak berhenti — ia menjadi lebih berani. Empat tahun setelah pidato Selassie, Perang Dunia II meletus. Dan kata-katanya bergema hingga kini: perdamaian yang tidak dipertahankan bukanlah perdamaian — ia hanyalah jeda sebelum perang yang lebih besar.
Sebelum beranjak, sempatkan membaca Perang Krimea 1853: Perang Modern Pertama di Eropa. Sudut pandangnya melengkapi apa yang baru saja kamu baca.
Kalau bermanfaat, teruskan tautan ini ke siapa pun yang suka sejarah.


