Dari September 1941 hingga Januari 1944, Leningrad — kini Saint Petersburg — dikepung tentara Jerman dan Finlandia selama 872 hari. Ini salah satu pengepungan terpanjang dan paling mematikan dalam sejarah, merenggut lebih dari 1 juta nyawa warga sipil, sebagian besar karena kelaparan. Hitler tidak berniat merebut kota itu; perintahnya eksplisit agar Leningrad “dihapus dari muka bumi” bersama penduduknya. Namun kota yang terjebak bersama 2,5 juta penduduknya ini tidak pernah menyerah.
Awal Pengepungan dan Musim Dingin Kelaparan
Ketika Jerman menyerang Soviet pada Juni 1941, Leningrad — kota simbol Revolusi sekaligus pusat industri penting — adalah salah satu tujuan utama. Pada September 1941, Jerman dan Finlandia menutup semua jalur darat ke kota, dan bencana kemanusiaan dimulai: persediaan makanan hanya cukup untuk beberapa minggu. Ini adalah perang pemusnahan, bukan perang konvensional.
Musim dingin 1941–1942 adalah yang terburuk. Suhu mencapai minus 40 derajat tanpa pemanas dan tanpa listrik, sementara ransum roti turun menjadi 125 gram per hari — roti yang terbuat dari serbuk gergaji dan selulosa. Orang-orang memakan kucing, anjing, tikus, bahkan wallpaper yang mengandung pati, dan setiap hari ribuan orang meninggal karena kelaparan dan dingin. Kanibalisme pun terjadi, meski jarang dibicarakan hingga kini.
Di tengah penderitaan itu, kehidupan berlanjut dengan ketabahan luar biasa: sekolah tetap buka, teater tetap tampil, dan ilmuwan terus bekerja di laboratorium yang membeku. Para ilmuwan Institut Vavilov bahkan melindungi koleksi benih tanaman yang sangat berharga sambil mereka sendiri kelaparan — beberapa meninggal di samping benih yang mereka jaga. Skala tragedi pengepungan kota seperti ini memiliki padanan pahit dalam sejarah perang kota lain, termasuk pertempuran laut besar yang dibahas lewat Perang Laut Jepang Timur untuk konteks front yang berbeda.
Jalan Kehidupan melintasi Danau Ladoga
Satu-satunya jalur pasokan Leningrad adalah permukaan Danau Ladoga yang membeku, yang dikenal sebagai “Jalan Kehidupan” (Doroga Zhizni). Truk-truk melintasi es berbahaya itu membawa makanan masuk dan mengevakuasi warga sipil — terutama anak-anak — keluar kota. Jalur ini sangat berbahaya: truk tenggelam menembus es yang retak, pesawat Jerman menyerang konvoi, dan banyak pengemudi tidak pernah kembali. Tanpa jalan ini, kota pasti jatuh.
Di antara 2,5 juta orang yang terjebak, 400.000 adalah anak-anak. Kisah Tanya Savicheva, gadis 11 tahun yang mencatat kematian seluruh keluarganya dalam buku harian hingga tersisa kalimat “hanya Tanya yang tersisa”, menjadi simbol penderitaan mereka. Buku harian itu kemudian dipamerkan di pengadilan Nuremberg sebagai bukti kejahatan perang Nazi. Tanya sendiri meninggal karena tuberkulosis setelah dievakuasi, tak pernah pulih dari kelaparan yang dideritanya.
Simfoni Leningrad: Perlawanan lewat Budaya
Pada Agustus 1942, di tengah pengepungan, Orkestra Radio Leningrad memainkan Simfoni Nomor 7 karya Shostakovich yang didedikasikan untuk kota itu. Konser tersebut disiarkan melalui pengeras suara ke arah garis Jerman sebagai bentuk perlawanan budaya. Para musisinya sendiri kelaparan — beberapa meninggal selama latihan — tetapi mereka tetap tampil. Shostakovich sebelumnya bertugas sebagai pemadam kebakaran sukarela di kota yang terkepung sebelum dievakuasi, sehingga simfoni itu adalah kesaksian langsung dari dalam pengepungan.
Perlawanan Leningrad pada akhirnya dimenangkan lewat ketekunan, bukan satu pertempuran tunggal. Berikut tonggak-tonggak akhirnya:
- Januari 1943: Operasi Iskra membuka koridor sempit ke kota dan pasokan meningkat signifikan.
- Januari 1944: ofensif besar Soviet mengusir Jerman dari wilayah Leningrad dan mengakhiri pengepungan setelah 872 hari.
- Total korban Soviet, militer dan sipil, mencapai sekitar 1,5 juta jiwa.
- Setelah pengepungan, kucing-kucing didatangkan dari Siberia untuk mengatasi wabah tikus; keturunan mereka masih “menjaga” museum Hermitage hingga kini.
Dampak manusianya menjadikan Leningrad salah satu kejahatan perang terbesar dalam sejarah, yang dilakukan dengan sengaja dan sistematis. Sekitar satu juta warga sipil tewas, sebagian besar karena kelaparan yang direncanakan sebagai senjata. Namun Leningrad juga menjadi simbol ketahanan manusia yang tertinggi. Kota ini tidak menyerah, tidak runtuh, dan tidak kehilangan kemanusiaannya bahkan dalam kondisi yang paling tidak manusiawi.
Selama pengepungan, orkestra dan teater kota tetap berusaha tampil sesekali, dan perpustakaan tetap dibuka bagi para pembaca yang masih cukup kuat untuk datang. Kehidupan budaya yang dipertahankan di tengah kelaparan itu menjadi simbol perlawanan spiritual kota.
Warisan dan Pelajaran dari Leningrad
Skala penderitaan Leningrad sulit dipahami sepenuhnya. Para penyintas mengalami trauma seumur hidup yang tidak pernah sembuh, dan banyak yang tidak pernah bisa berbicara tentang apa yang mereka alami selama 872 hari itu. Luka psikologis pengepungan diwariskan antar generasi, menjadi bagian gelap dari ingatan kota. Setelah perang, Leningrad dibangun kembali dengan tekun, tetapi para penyintas menanggung masalah kesehatan seumur hidup akibat kelaparan yang mereka derita.
Leningrad dianugerahi gelar “Kota Pahlawan”, penghargaan tertinggi Soviet, dan peringatan pengepungannya menjadi bagian sentral memori kolektif Rusia. Namun pengakuannya datang dengan ironi pahit: Stalin yang paranoid justru mencurigai para penyintas, dan banyak pejabat Leningrad menjadi korban pembersihan pasca-perang. Baru setelah kematian Stalin pengorbanan kota ini diakui sepenuhnya. Kisah birokrasi militer di masa perang ini berbeda jauh dari sistem administrasi tentara klasik yang dibahas dalam pembentukan Diwan militer, tetapi sama-sama menunjukkan bagaimana negara mengorganisasi perang.
Pelajaran terbesar Pengepungan Leningrad ada dua. Pertama, kelaparan di kota itu bukan kecelakaan, melainkan direncanakan — pengingat bahwa perang bisa menjadi genosida dan dunia harus mencegahnya. Kedua, dalam kondisi yang seharusnya menghancurkan peradaban, warga Leningrad mempertahankan sekolah, teater, dan ilmu pengetahuan: budaya terbukti lebih kuat daripada kelaparan.
Masih penasaran dengan kelanjutan kisahnya? Pertempuran Moskow 1941: Operasi Taifun yang Gagal di Gerbang Ibu Kota membahas sisi lain yang tak kalah menarik dari peristiwa ini.
Simpan halaman ini sebagai penanda — bacaan bagus selalu layak dibaca ulang.



