Pertempuran Leyte 1944: Pertempuran Laut Terbesar dalam Sejarah

Diposting pada

±4 menit baca • Dipublikasikan 7 November 2026 • Diperbarui 21 Oktober 2026

Pada Oktober 1944, di perairan Filipina, terjadi pertempuran laut terbesar dalam sejarah manusia: Pertempuran Teluk Leyte. Lebih dari 280 kapal perang dan ratusan pesawat terlibat dalam bentrokan raksasa selama empat hari yang menentukan nasib Perang Pasifik. Amerika Serikat bertekad merebut kembali Filipina, sementara Jepang mempertaruhkan hampir seluruh armada yang tersisa. Hasilnya: kekuatan laut Jepang hancur sebagai armada tempur yang utuh — untuk selamanya.

Jalan Menuju Leyte dan Rencana Sho-Go

Amerika sampai di Leyte setelah dua tahun bertempur dari pulau ke pulau. Jenderal MacArthur bersikeras merebut kembali Filipina — tempat ia pernah bersumpah “I shall return” — sementara Laksamana Nimitz lebih memilih menyerang Formosa (Taiwan) langsung; Presiden Roosevelt akhirnya memihak MacArthur. Kekuatan yang dikerahkan Amerika luar biasa besar: Armada Ketiga dan Ketujuh dengan 8 kapal induk armada, 8 kapal induk ringan, 18 kapal induk pengawal, dan 12 kapal tempur. Jepang mengumpulkan 4 kapal induk, 9 kapal tempur — termasuk raksasa Yamato dan Musashi — serta belasan kapal penjelajah.

Jawaban Jepang adalah rencana Sho-Go yang nekat: kapal induk yang hampir kehabisan pesawat dijadikan umpan untuk memancing armada utama Amerika menjauh, sementara kapal tempur berat menyerbu armada pendaratan yang tak terlindungi. Rencana itu nyaris berhasil. Hanya keberanian segelintir kapal kecil yang pada akhirnya menggagalkannya — seperti yang ditunjukkan jalannya pertempuran berikut:

  • Laut Sibuyan (23–24 Oktober): kapal selam Amerika menenggelamkan dua kapal penjelajah berat Jepang, lalu gelombang pesawat menghantam armada Kurita; Musashi — 72.000 ton dengan meriam 46 cm — tenggelam setelah dihantam 19 torpedo dan 17 bom, membawa lebih dari seribu awaknya.
  • Selat Surigao (malam 24–25 Oktober): armada Nishimura masuk perangkap formasi “T” Laksamana Oldendorf; pertempuran kapal tempur lawan kapal tempur terakhir dalam sejarah ini menewaskan Nishimura bersama kapal Fusō, dan hanya satu kapal perusak Jepang yang lolos.
  • Samar (fajar 25 Oktober): armada Kurita yang disangka hancur muncul di hadapan Taffy 3 yang mungil; kapal-kapal perusak seperti Johnston, Hoel, dan Heermann menyerbu raksasa Jepang hingga Kurita yang kebingungan memilih mundur.
  • Tanjung Engaño: Halsey mengejar umpan Ozawa di utara dan menenggelamkan keempat kapal induk Jepang, termasuk Zuikaku — kapal terakhir yang selamat dari Pearl Harbor.

Samar: Keberanian Taffy 3 dan Kontroversi Halsey

Momen paling dramatis terjadi di lepas pantai Samar. Halsey, yang percaya laporan pilot bahwa armada Kurita telah hancur, membawa seluruh Armada Ketiganya ke utara mengejar umpan kapal induk Jepang — meninggalkan Selat San Bernardino tanpa penjagaan. Ketika Kurita muncul, yang menghadapinya hanyalah Taffy 3: gugus kecil kapal induk pengawal dan kapal perusak yang lambat dan nyaris tak bersenjata berat, berhadapan dengan Yamato dan tiga kapal tempur lain plus kapal penjelajah berat. Pilot-pilot Taffy 3 menyerang tanpa henti; ketika bom habis, mereka menyerang dengan tembakan senapan mesin.

Kurita, yang mengira berhadapan dengan armada utama Amerika, kehilangan tiga kapal penjelajah berat dan formasinya kacau; ia memutuskan mundur tepat ketika kemenangan ada di depan mata. Keputusan itu masih diperdebatkan sejarawan hingga kini, dan keputusan Halsey mengejar umpan menjadi salah satu kontroversi terpanas dalam sejarah angkatan laut Amerika. Secara keseluruhan Sho-Go gagal total: Jepang kehilangan 3 kapal tempur, 4 kapal induk, 10 kapal penjelajah, dan 11 kapal perusak. Perbandingan strategi armada besar seperti ini juga menarik bila disandingkan dengan operasi laut lain dalam sejarah, sebagaimana diulas dalam peta pertempuran Perang Teluk.

Kamikaze Lahir di Leyte

Leyte juga menjadi saksi lahirnya taktik paling mengerikan di Perang Pasifik: kamikaze. Pada 25 Oktober, pesawat-pesawat Jepang yang dipiloti sukarelawan bunuh diri mulai menabrakkan diri ke kapal-kapal Amerika. Kapal induk pengawal Saint Lo tenggelam — kapal Amerika pertama yang hilang akibat serangan kamikaze. Taktik ini lahir dari keputusasaan: pilot terlatih Jepang sudah habis, dan komando Jepang menilai lebih baik mengorbankan pesawat beserta pilotnya daripada membiarkannya jatuh tanpa hasil.

Kamikaze terus menghantui armada Amerika hingga akhir perang dan menewaskan ribuan pelaut. Bagi Jepang, Leyte adalah akhir dari angkatan lautnya sebagai kekuatan ofensif. Yamato yang selamat dari pertempuran ini akhirnya tenggelam pada April 1945 dalam misi bunuh diri ke Okinawa tanpa perlindungan udara — akhir tragis kapal terbesar yang pernah berlayar. Sementara itu, pendaratan di Leyte pada 20 Oktober 1944 melahirkan foto ikonik MacArthur berjalan di air saat kembali ke Filipina.

Dampak dan Warisan Leyte

Secara strategis, Leyte membuka jalan bagi pembebasan Filipina dan memutus jalur pasokan minyak Jepang dari Hindia Belanda — tanpa bahan bakar, sisa kapal perang Jepang hanyalah besi tua yang mengapung. Amerika membayar kemenangan ini dengan sekitar 3.500 korban jiwa, jauh lebih sedikit daripada Jepang yang kehilangan lebih dari 12.000 pelaut dan penerbang; meski begitu, pertempuran darat di pulau Leyte sendiri berlangsung hingga Desember dengan perlawanan fanatik. Pertempuran-pertempuran penentu yang mengubah arah perang kerap lahir dari gabungan keberanian dan keputusan komandan di saat kritis, sebagaimana juga terjadi dalam Perang Sedan di era yang berbeda.

Pelajaran terbesar Pertempuran Teluk Leyte adalah bahwa faktor penentu bukan hanya jumlah kapal, melainkan keberanian, keputusan di saat kritis, dan sedikit keberuntungan. Taffy 3 di Samar akan selalu dikenang sebagai bukti bahwa kapal kecil dengan awak berhati besar bisa menghentikan raksasa.

Satu artikel selesai, satu lagi menanti: Pertempuran Morotai 1944: Pangkalan Sekutu di Indonesia Timur adalah bacaan lanjutan yang paling nyambung dari sini.

Kalau bermanfaat, teruskan tautan ini ke siapa pun yang suka sejarah.

Gambar Gravatar
Redaksi Sejarah Perang — media sejarah militer Indonesia yang membahas pertempuran, strategi, tokoh, dan pelajaran sejarah dari Indonesia dan dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *