Pada 1642, Inggris terbelah: Raja Charles I — yang percaya pada hak ilahi raja — melawan Parlemen, yang menuntut kekuasaan. Perang Saudara Inggris (1642–1651) adalah konflik yang mengubah dunia.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah Eropa, seorang raja yang kalah perang diadili dan dieksekusi oleh rakyatnya sendiri. Monarki dihapuskan, republik didirikan — dan fondasi demokrasi modern diletakkan. Uraian lengkapnya tersedia pada artikel Perang Saudara Inggris di Wikipedia.
Akar Konflik: Uang, Agama, dan Kekuasaan
Perang ini berakar pada tiga sumber ketegangan yang saling menguatkan:
- Uang: Charles I membutuhkan dana untuk perang, tetapi Parlemen menolak memberikannya tanpa konsesi politik. Ia lalu memerintah tanpa Parlemen selama 11 tahun (1629–1640) — periode “Tirani Sebelas Tahun” — sambil memungut pajak ilegal seperti ship money.
- Agama: Charles dan Uskup Agung Laud memaksakan keseragaman Anglikan — termasuk liturgi Anglikan kepada Skotlandia yang Presbiterian — dan menindas kaum Puritan yang mendominasi Parlemen. Bagi Puritan, ini adalah perjuangan merebut jiwa Inggris.
- Kekuasaan: pertanyaan mendasarnya adalah kedaulatan — apakah raja berkuasa atas dasar hak ilahi yang tak dapat diganggu gugat, atau kekuasaan berasal dari rakyat melalui Parlemen?
Ketika krisis keuangan dan pemberontakan Skotlandia memaksa Charles memanggil kembali Parlemen, yang ia dapatkan justru tuntutan reformasi radikal. Pada 1642, Charles mencoba menangkap lima anggota Parlemen — pelanggaran yang menyulut perang.
Dua kubu terbentuk. Royalis (Cavaliers) — bangsawan dan kaum Anglikan — mendukung raja. Parlementarian (Roundheads) — kelas menengah dan kaum Puritan — mendukung Parlemen.
Awalnya Royalis unggul, terutama berkat kavaleri Pangeran Rupert. Hingga Oliver Cromwell muncul.
Cromwell dan New Model Army: Revolusi Militer
Oliver Cromwell — petani dan anggota parlemen yang menjadi jenderal — menciptakan New Model Army yang revolusioner: tentara profesional nasional pertama Inggris. Pasukan intinya, kaveleri “Ironsides”, direkrut berdasarkan kemampuan, bukan kelahiran; didisiplinkan dengan ketat; dan dimotivasi oleh keyakinan Puritan.
Di Marston Moor (1644) dan terutama Naseby (1645) — titik balik perang — New Model Army menghancurkan pasukan raja. Kemenangannya bukan karena jumlah, melainkan profesionalisme: Cromwell membuktikan tentara ideologis yang terlatih dapat mengalahkan tentara tradisional yang dipimpin aristokrat. Charles menyerah pada 1646, sempat melarikan diri, lalu ditangkap kembali.
Namun revolusi militer itu memiliki sisi gelap. New Model Army menjadi kekuatan politik yang tidak dapat dikendalikan: menuntut gaji yang tertunggak dan reformasi, hingga akhirnya mengambil alih negara. Tentara yang diciptakan untuk membela Parlemen berubah menjadi penguasa Parlemen — pola yang berulang dalam banyak revolusi sesudahnya: tentara pembebas menjadi penindas baru.
Eksekusi Raja: Momen yang Mengguncang Dunia
Setelah Parlemen dibersihkan oleh tentara dalam Pride’s Purge, Charles diadili atas tuduhan pengkhianatan. Pada 30 Januari 1649, ia dipenggal di depan Istana Whitehall — raja yang “diurapi Tuhan” dieksekusi secara publik oleh rakyatnya sendiri. Tidak ada presedennya dalam sejarah Inggris: raja-raja sebelumnya dibunuh secara diam-diam, tidak pernah diadili dan dieksekusi terang-terangan.
Kerajaan-kerajaan Eropa ngeri: jika raja Inggris dapat dipenggal, siapa yang aman? Inggris menjadi republik — Commonwealth — yang terisolasi secara diplomatik. Eksekusi Charles adalah deklarasi bahwa kedaulatan rakyat bukan sekadar teori; ia dapat ditegakkan dengan kapak.
Perdebatan tentangnya belum selesai hingga kini: apakah pengadilan itu sah, ataukah sekadar pembunuhan yang dilegalkan? Pendukung Cromwell berargumen raja yang melanggar kepercayaan rakyat dapat diadili; para kritikus menyebutnya pembunuhan yudisial. Pertanyaan tentang legitimasi kekerasan revolusioner itu terus menghantui setiap revolusi sesudahnya.
Lord Protector dan Warisan: Demokrasi Lahir dari Pedang
Setelah memenangkan perang, Cromwell menjadi Lord Protector — diktator militer berkedok republik. Ia membubarkan Parlemen yang tidak kooperatif (“Dalam nama Tuhan, pergilah!”), memerintah melalui jenderal-jenderal militer, dan menegakkan moralitas Puritan yang ketat: melarang teater, olahraga hari Minggu, bahkan perayaan Natal. Revolusi demi kebebasan menghasilkan tirani baru.
Di Irlandia, sisi tergelapnya membekas hingga kini: pembantaian di Drogheda dan Wexford, serta pengusiran massal yang menghancurkan masyarakat Irlandia. Pahlawan Inggris ini adalah penjahat perang bagi Irlandia — warisan seseorang memang tergantung dari sisi mana ia dipandang. Paradoks Cromwell menunjukkan sesuatu yang berlaku umum: untuk melindungi revolusi dari musuh, kebebasan dibatasi — tetapi pembatasan itu menghancurkan apa yang diperjuangkan revolusi.
Commonwealth runtuh dan monarki dipulihkan pada 1660. Tetapi Inggris tidak pernah sama lagi: prinsip bahwa Parlemen — bukan raja — adalah pemegang kedaulatan tertinggi tidak pernah diganggu gugat sesudahnya. Revolusi Agung 1688 yang damai hanya mungkin terjadi karena Perang Saudara telah menetapkan presedennya: raja yang melanggar batas dapat digulingkan.
Locke menulis Two Treatises sebagai pembenaran teoretis atas apa yang telah dilakukan dengan pedang, dan ide-ide perang ini — kedaulatan rakyat, hak-hak alami, pembatasan kekuasaan — menyebar ke Amerika dan Prancis, menginspirasi revolusi-revolusi berikutnya. Perebutan kekuasaan antara pusat dan daerah, raja dan rakyat, adalah benang merah sejarah perang di mana-mana — dari konflik-konflik nusantara seperti Perang Ternate-Tidore: Konflik dan Pengaruh Islam hingga perang informasi masa kini yang dibahas dalam Drone dan Media Sosial dalam Perang.
Ironisnya, demokrasi lahir bukan dari debat filosofis, tetapi dari perang saudara yang brutal. Kebebasan tidak diberikan — ia direbut. Kepala Charles I yang jatuh adalah harga yang dibayar untuk pelajaran yang diwariskan kepada seluruh dunia: kekuasaan absolut, betapa pun “ilahi” klaimnya, runtuh ketika rakyat yang terorganisir berkata tidak — dan tidak ada penguasa yang kebal dari pertanggungjawaban.
Satu artikel selesai, satu lagi menanti: Perang Dingin di Asia: Perebutan Pengaruh Soviet dan Amerika adalah bacaan lanjutan yang paling nyambung dari sini.
Jangan simpan sendiri: bagikan kisah ini dan ajak yang lain ikut membaca.



